Oleh : Irmawati
Essai Terbaik III Pada Kohati Fest yang diadakan oleh Kohati Komisariat
Adab dan Humaniora Cabang Gowa Raya
Berbicara
mengenai Kohati hari ini, di sini saya tidak membahas jauh perihal konsep Kohati
namun lebih kepada peran yang harus diaktualisasikan terhadap lingkungan
sekitarnya. Bagaimanakah posisi Kohati dalam meneropong masalah di sekitarnya
ataupun di dalam rumahnya sendiri.
Berawal
dari polemik perihal subordinasi, memarginalkan, stereotip, misogini dan segala
bentuk penindasan pada perempuan ini kemudian hangat dibicarakan oleh
masyarakat, tentunya sebagai lembaga yang mengawal isu tersebut Kohati harus
ikut andil.
Disini
saya mencoba menempatkan Kohati yang dalam dirinya mengalir jiwa seorang
feminis untuk kemudian berperan melawan segala bentuk ketertindasan. Seperti
dalam hubungan keluarga, namun sebelum jauh membahas hal tersebut saya akan
mendudukkan dulu konsep feminism itu.
Feminisme
adalah konsep kesetaraan gender yang masih terus digaungkan hingga saat ini.
Ide besar feminisme adalah memberikan hak dan kesempatan yang sama antara
perempuan dan laki-laki dalam berbagai hal, mulai dari pekerjaan, hak politik,
hingga peran dalam keluarga serta masyarakat. Yang mana Feminisme ini hadir
karena ketidakadilan atau ketidaksetaraan gender yang terjadi dikalangan
sosial. Dalam buku a Feminist manifesto mengatakan bahwa feminis merupakan
seseorang yang percaya pada kesetaraan sosial, politik, dan ekonomi untuk kedua
jenis kelamin.
Selanjutnya
saya akan menganalisis bagaimana kondisi perempuan hari ini, yang mana dalam
banyak kasus biasa kita dengar terkait Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Tentu
sebagai Kohati yang bertugas merespons isu tersebut perlu kita pahami dulu
sebenarnya apa yang menjadi alasan dan faktor terjadinya kekerasan itu.
Di
sini saya akan membangun hipotesa, bahwa ada banyak hal yang membuat laki-laki
melakukan kekerasan, salah satunya karena ia tidak memahami hati istrinya, akalnya
belum sempurna ,tentu ia perlu melakukan tazkiyah An-nafs (penyucian jiwa)
dalam buku Islam dan kosmologi perempuan dengan harap membangun keseimbangan
dalam keluarga. Perihal tidak lagi memandang istrinya sebagai pelayan ataupun
pembantu bagi anak-anak, menjadi istri yang tupoksinya hanya kasur, sumur, dapur.
yah kita semua tahu tabiat perempuan tidak terlepas dari hal di atas tapi ini
bukan kewajiban .semua bisa dan berpotensi melakukannya.
Apakah hari ini Kohati telah menjalankan tugasnya sebagaimana mestinya?
Hari ini, ada banyak kasus yang terjadi selain yang saya sebut di atas seperti pelecehan seksual di Luwu yang mana seharusnya Kohati mengambil sikap dalam mengawal isu tersebut.
Olehnya
sebagai Kohati yang sadar akan perannya perlu ikut andil dalam menyelesaikan
isu seperti itu, jika tidak bisa mengawal setidaknya dengan membangun kultur
intelektual dengan melibatkan masyarakat, memahamkan mereka dan diri sendiri
dalam menghadapi problem keperempuanan baik di rumah tangga, sosial maupun
lainnya.
Dalam
perspektif Islam sendiri, Murtada Mutahari mengatakan bahwa posisi perempuan
dan laki-laki itu setara, ia sama-sama memiliki potensi yang membedakan
keduanya hanyalah "Ketakwaannya".
Sekalipun
kita banyak mengonsumsi wacana Barat, sekali-kali buat analisis atau
perbandingan antara dalam pedoman kita di PDK (Pedoman Dasar Kohati) dan diluar
dalam hal ini teori Barat.
Bahwa
Islam tidak mengenal istilah feminisme dan gender dengan berbagai bentuk konsep
dan implementasinya dalam melakukan gugatan atas nilai-nilai subordinasi kaum
perempuan, karena dalam Islam tidak membedakan kedudukan seseorang berdasarkan
jenis kelamin dan tidak ada bias gender dalam Islam.
Olehnya
setelah sadar akan posisi dan perannya, kita sebagai Kohati harus berdaya
terlebih dahulu kemudian memberdayakan, menyala tanpa harus meredupkan dan
saling menguatkan dengan basis epistemik.
Tulisan
Sepenuhnya Tanggung Jawab Penulis