Oleh: Rifa'Atul Mahmudah
Body
shaming merupakan
perilaku yang menjelek-jelekkan tubuh seseorang atau membandingkan kondisi
fisik seseorang dengan orang lain, dari perbedaan bentuk badan, warna kulit, gaya berpakaian, hingga bentuk kaki. Semua
candaan itu didasari oleh beauty standard
atau standar kecantikan yang jamak di masyarakat.
Tidak jarang seseorang sakit hati karena merasa
dihina dan diperlakukan berdasarkan sesuatu yang tidak ia sukai. Hal itu makin
sering kita jumpai, baik secara langsung, atau melalui media sosial. Bahkan
tanpa kita sadari, dari candaan dan guyonan itu, kita melukai orang yang kita
sayang, entah itu adik, kakak, atau teman kita dengan sesuatu yang mereka tidak
suka.
Ketika kita berkumpul bersama teman, kita sudah
terbiasa memulai obrolan dengan “Eh,
kamu gemukan ya,” atau “Ih kurus ya, hitaman sekarang.” Padahal itu semua
adalah bagian dari body shaming. Ya,
mungkin itu cara seseorang berbasa-basi, tetapi sungguh hal seperti itu tidak
sehat. Lebih dari itu, kita sering memanggil teman dengan nama lain yang sesuai
dengan warna kulit mereka, “Hey itam” dan memberi julukan yang tidak pantas. Maksud
hati itu hanya “sekedar” bercanda, tetapi tidak. Itu sangat-sangat tidak lucu.
Mengomentari hingga menertawakan fisik
seseorang sering kita dapati, dan bahkan menjadi kebiasaan, dianggap lumrah
bagi kawula muda dewasa ini. Mungkin saja saat disapa atau dipanggil dengan
julukan seperti itu, dalam keramaian, dia merespons bias-biasa saja atau bahkan
berpura-pura ikut tertawa. Nyatanya, komentar atau julukan yang diberikan itu
menjadi beban pikiran bagi dirinya. Dia
kurang percaya diri, malu, kesal, sakit hati, bahkan mungkin marah dan
menjadikan dia benci pada dirinya.
Itu berujung pada Body image atau penilaian seseorang terhadap fisik mereka. Ada dua jenis
body image yaitu, positive body image dan negative
body image. Positive body image
ialah dia yang merasa puas pada apa yang ada pada dirinya, menerima fisiknya
apa adanya, dan percaya diri dengan apa yang dia miliki walau tidak sesuai
dengan standar kecantikan yang ada di masyarakat. Apabila seseorang memiliki negative body image, dia tidak merasa
puas dengan apa yang dia miliki, dan tidak jarang merasa ada bagian dari tubuhnya
yang harus dia ubah.
Jika seseorang sering menerima perlakuan body shaming dalam kesehariannya, itu
bisa melahirkan negative body image
pada diri seseorang. Selain itu, hal tersebut dapat mengganggu mental yang
mengakibatkan terjadinya depresi yang bisa mempengaruhi kesehatannya. Tanpa
kita sadari body shaming punya dampak
besar bagi kesehatan mental seseorang. Korban akan merasa apa yang ada pada
dirinya itu salah, sehingga ia tak lagi percaya diri. Tak jarang pula korban
dibuat depresi yang berakhir dengan penyakit anoreksia atau gangguan makan yang
menyebabkan seseorang terobsesi dengan berat badan dan apa yang dimakannya.
Pada tahun 2018 tercatat ada 966 kasus body shaming di Indonesia yang terlapor
di Mabes Polri: 94% remaja putri dan 64% remaja putra yang menjadi korban body shaming. Tempo.co menyebutkan dalam laman beritanya beragam artis yang
trauma hingga mengalami gangguan kesehatan mental dikarenakan body shaming. Artis tanah air misalnya, Tamara
Bleszynski dengan komentar pipi chubby-nya;
artis mancanegara Kim Kardashian yang mengalami pengalaman trauma karena body shaming saat hamil; Demi Lovato
ketenangan hatinya terganggu saat pemulihan pasca rehabilitasi pada tahun 2018
silam.
Kita harus menghindari perilaku body shaming dengan memulai kebiasan
baru. Kebiasaan baru itu dapat kita mulai dengan tidak memberi julukan aneh
yang menjelekkan tubuh orang lain. Kita harus saling menghargai dan tidak lagi
menilai orang semata-mata hanya karna fisik. Selain itu, pada saat kita menyapa
dan bertemu kawan lama, sebisa mungkin kita tidak lagi menyinggung persoalan
penampilan. Carilah topik pembahasan yang lebih positif dan menarik.
Hal yang dianggap lelucon atau hiburan buat
kita, justru secara terang-terangan melukai orang lain. Sampai kapan kita mau
berkata dan bertingkah seperti itu. Body
shaming sudah terlalu sering menjadi beban bagi orang lain. Kita bukan
Tuhan yang maha sempurna. Kita manusia punya kekurangan. Syukuri apa yang kita
miliki. Kita punya cara lain untuk bahagia tanpa menjadikannya luka pada yang
lain.