Oleh: Muhammad Syamsul Abdullah
Covid-19 ditetapkan sebagai pandemi oleh WHO, organisasi kesehatan dunia yang berbasis di Jenewa, Swiss. Beberapa negara yang menghadapi pandemi ini seperti tidak siap, kegagalan dalam menghadapi situasi ini terjadi dimana-mana. Kehadiran Covid-19 menghantam seluruh sendi kehidupan manusia, kegagalan untuk menyiapkan dan bereaksi dimulai pada bulan Desember ketika negara-negara di dunia gagal dalam merespon Covid-19 yang mulai menyebar seantero dunia, kegagalan ini sebenarnya telah terprogram sejak beberapa dasawarsa lalu ketika kepentingan bersama dari kesehatan masyarakat secara bersama-sama diabaikan secara sadar ataupun tidak, proyeksi yang dihasilkan menempatkan jaminan kesehatan di tempat kedua, ribuan orang sedang terancam nyawanya jika suatu negara beralih antara kepentingan pengendalian penyakit dan kepentingan ekonomi.
Seluruh dunia lalu disibukkan untuk mencari penyebab awal dari pandemi ini, beberapa hasil penemuan lalu mengungkap asal-usul virus ini, lalu mengatakan virus ini berasal dari hewan liar yang diperjualbelikan di pasar hewan Wuhan, yang menginfeksi seorang pedagang di pasar tersebut, kemudian virus ini menyeberang melintasi batas-batas kontinen dalam jangka waktu 3 minggu, negara adidaya sekaliber Amerika pun terlihat gagap melihat kejadian ini, seperti yang dikatakan media Reuters bahwa Amerika Serikat memecat ahli Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) di Tiongkok beberapa bulan sebelum wabah ini muncul, kehilangan kontak langsung dari seorang ahli lapangan di Tiongkok jelas melemahkan respon AS terhadap pandemi ini.
Berbeda dengan yang terjadi di Tanah Air berbagai upaya dilakukan untuk memutus mata rantai persebaran virus tersebut, intervensi ketat dilakukan pemerintah dengan memberlakukan Pembatasan Sosial Skala Besar (PSBB) tetapi kebijakan ini tidak diikuti dengan peningkatan volume pengetesan sehingga ini tidak menjadi jawaban atas semakin tersebarnya virus ini, Menurut laporan Worldmeters, hingga Kamis, 27 Mei 2021 pukul 15.00 WIB, angka kasus secara global telah mencapai 169,097,775 dengan 3,512,593 kematian.
Ditengah kondisi yang rumit ini, Negara-negara di seluruh dunia menjadikan vaksinasi sebagai senjata “pamungkas” untuk menang melawan Sars-Cov 2 ini, tidak terkecuali Indonesia, Indonesia menggunakan vaksin CoronaVac yang diproduksi oleh perusahaan vaksin Sinovac, selain vaksin dari Sinovac pemerintah Indonesia juga menggunakan vaksin dari AstraZeneca, Sinopharm, CanSino, dan Moderna tetapi disisi lain hadirnya vaksin-vaksin ini menuai banyak kontroversi, beberapa kalangan masih menolak untuk di vaksin, upaya vaksinasi ini dilakukan sebagai upaya untuk memutus mata rantai penyebaran pandemi tetapi sampai saat ini kita belum mampu menjamin setelah vaksinasi ini, kehidupan ini akan kembali semula seperti sebelum pandemi.
Sementara vaksin disuntikkan ke dalam tubuh-tubuh manusia sebagai upaya untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19, di sisi lain terjadi pengerusakan hutan dan pencemaran lingkungan yang tidak terkontrol, jutaan hektar hutan telah dialih fungsi menjadi lahan perkebunan dan pertanian monokultur skala besar, sebagai imbas dari pengerusakan hutan ini tentunya berdampak terhadap penyebaran penyakit menular, pembukaan kawasan hutan untuk pengembangan pertanian industri menyumbang potensi besar terhadap penyebaran penyakit, ditambah dengan meningkatnya penduduk bumi yang semakin tidak terbendung, penduduk yang semakin meningkat jumlahnya membutuhkan kebutuhan yang besar, yakni kebutuhan akan sumber pangan.
Pemenuhan kebutuhan bagi manusia ini pada akhirnya meniscayakan eksploitasi alam yang semakin besar, eksploitasi atas nama pembukaan lahan pertanian melebihi batas-batas hutan, penggunaan mesin-mesin industri pertanian yang sangat berlebihan semakin menambah kerusakan alam, negara seharusnya bertanggung jawab dengan kerusakan ekologi yang sedang terjadi, saat ini penting untuk membangun paradigma baru untuk menjaga bumi dari kerusakan ekologis.
Upaya melegalkan pengrusakan hutan melalui aturan-aturan yang dibuat oleh negara demi memuluskan langkah pertumbuhan, semakin membuka peluang lahirnya berbagai persoalan, seperti penyebaran penyakit menular, hadirnya penyakit menular tidak dapat dipisahakan dari hancurnya lingkungan kita, kerusakan ekologi ini memaksa kita untuk kembali melihat lingkungan ini sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kita. Sebagaimana lingkungan ini pun berkontribusi untuk kehidupan kita, seorang ahli geografi pertanian, Mindi Schneider mengemukakan bahwa industri hewan ternak dalam skala besar membuat sungai-sungai dialiri pupuk kandang dan mencemari saluran sungai itu sendiri, hilangnya nutrisi tanah dan kalori makanan karena konversi biji-bijian dan minyak sayur yang tidak efesien menjadi industri daging, ini adalah sistem yang merusak pedesaan demi “melayani” modal.
Peristiwa inilah yang kita temukan dari daerah ke daerah di seluruh dunia termasuk di indonesia, dari sirkuit awal akumulasi modal di seluruh Eurasia dan Afrika hingga Amerika, lahan pertanian dan padang rumput berkembang lima kali lipat dari tahun 1700 sampai 2007 menjadi 27 km persegi masing-masing menggantikan hutan dan sabana/padang rumput dan semak belukar.
Kehancuran ekologi berkontribusi bagi penyebaran penyakit menular baru, membiarkan kehancuncarn ekologi yang terjadi secara terus menerus ini akan membawa kita pada jurang kepunahan massal, dampak dari kerusakan ekologi ini membuat patogen-patogen kehilangan habitat alamiahnya yaitu di hutan-hutan lebat, sebab kini hutan telah diganti menjadi lahan pertanian, peternakan dan pertambangan dalam skala besar, kehidupan patogen tersebut, kini seolah berdampingan dengan kehidupan manusia. Maka dari itu kita sudah seharusnya menjaga lingkungan kita, peduli dengan lingkungan adalah menjaga masyarakat dari kepunahan dan keluar dari malapetaka ekologi.