masukkan script iklan disini
Oleh: Ziyad Rizqi
Sebelum menonton film ini, yang ada dibayangan saya hanya anggapan bahwa You And I sekedar film yang menye menye dan tidak menjelaskan bagaimana sejarah melalui peristiwa G30S disalah-percayakan. Saya membayangkan hal ini akan menjadi konyol buat saya sendiri sebab akan menangisi tayangan dua orang lansia yang bertahan hidup karena cuma menjual kerupuk dan menjalani persabatan sederhana mereka mulai dari remaja hinggah tutup usia tanpa hubungan keluarga.
Namun anggapan saya salah. Bayangan awal saya buyar di penghujung film. Memang menyedihkan, tapi tidak semenyedihkan—bagi saya pribadi—saat menonton film Jagal yang dimana kader Pemuda Pancasila begitu hausnya akan darah yang mereka tuduh sebagai anggota ataupun simpatisan PKI.
Dengan alur yang sama, sebelumnya film Senyap juga hadir sebagai persentasi yang menggambarkan penyitas pasca peristiwa G30S, tapi You And I menampilkannya secara lebih personal dan tidak dominan memetakan keganjilan sejarah yang di fabrikasikan oleh pemerintah pasca 1965 melalui media-media lazim sampai sekarang.
You And I ini berkisah tentang dua orang eks-tapol yang menjalin persahabatan mulai dari penjara, yang dimana pada saat itu Kaminah di tangkap pada usia 17 tahun dan Kusdalini di umur 21 tahun. Meski Mbah Kus dibebaskan setelah dua tahun mendekam di penjara dan Mbah Kam masih harus menjalani bui selama lima tahun lagi, hubungan mereka tidak berakhir saat yang satunya sudah bebas sebagai tahanan.
Mbah Kus sering menjenguk dan membawakan makanan untuk Mbah Kam, sampai-sampai sipir pada saat itu bilang, "...kenapa kamu masih di sini?, Kamu mau di penjara lagi?, aku bisa masukkan kamu ke penjara lagi kalau kamu mau." Namun Mbah Kusdalini tetap datang jika ingin menjenguk Mbah Kam dengan keberanian yang tinggi.
Jalinan mereka makin intim saat Mbah Kamilah bebas, Mbah Kam di asuh oleh nenek Kusdalini karena ia tidak di anggap lagi sebagai anak oleh keluarganya sebab pada saat peristiwa G30S, 1965 intens membeberka stigma negatif kepada masyarakat terhadap para eks-tapol.
Di Solo, Jawa Tengah, Kehidupan ekonomi Kamilah dan Kusdalini tetap berlangsung hanya dengan berjualan kerajinan tangan dan kerupuk yang dititipkan di warung makan. Perangai dua perempuan penyintas itu dalam film You And I tidak menampakkan sama sekali bahwa kehidupan ini rumit baginya; Kusdalini di usia senjanya dengan senang hati merawat Kamilah yang mengalami penyakit demensia, gangguan pendengaran dan tulang kaki yang bermasalah.
Saat ingin menitipkan ke warung makan, Kusdalini bertugas untuk menggoreng kerupuk dan Mbah Kam yang akan membungkusnya. Di dekat pintu rumah mereka, Kamilah selalu duduk disitu saat memasukkan kerupuk jualannya kedalam plastik. Di tempat itu juga Mbah Kus selalu mengoleskan salep ke kaki Mbah Kam yang sering nyeri.
Sesekali Kamilah bercerita tentang orang-orang yang ia mimpikan dan terkadang ia mempertanyakan hal tersebut ke Mbah Kus; apakah orang yang ada dalam mimpinya itu masih hidup atau sudah meninggal. Menurut saya lucu, ada satu adegan yang dimana Mbah Kam bertanya apakah Soekarno masih hidup. Kadang Mbah Kus menjawab pertanyaan yang biasa dilontarkan oleh Mbah Kam dengan serius, kadang juga dengan seadanya saja.
Atmosfer dari beberapa adegan itu sedikit banyaknya menggurui saya tentang bagaimana seharusnya kita patut memandang eks-tapol sebagai manusia, bukan malah melihat apa latar belakang mereka dan salah tidaknya mereka dalam menganut sebuah ideologi; Saat yang satu sakit, yang lain merawat dengan penuh perhatian. Di saat yang satunya harus diam di penjara lebih lama, yang satunya selalu datang untuk menguatkan.
Kejumudan Pemerintah Merawat Fabrikasi Peristiwa G30S
Sampai hari ini dan entah sampai kapan, Negara melalui pemerintahannya sama sekali tak mau mengulik kembali pelanggaran HAM yang terjadi di masa lalu. Bahkan para terduga pelaku kejahatan tersebut—menurut Kontras.org—saat ini sedang bercokol di tubuh pemerintahan. Atas nama pembangunan ekonomi negara dengan dalih kesejahteraan rakyat, pemerintah melalui instusi-institusi tertentu melawan rakyat demi kelancaran berjalannya perusahaan dalam negeri dan asing yang di mana keuntungannya tidak membuat rakyat menjadi berdaulat secara luas.
Bukankah PKI yang dibubarkan pada tanggal 12 maret 1966 dalam buku-buku sejarah yang dilarang pemerintah dijelaskan bahwa organisasi tersebut diperkuat oleh gagasan Marhaenisme, yang dimana ideologi tersebut mencita-citakan terciptanya suatu tatanan masyarakat yang adil dan makmur serta rakyat yang berdaulat atas hak-haknya.
Lantas, ideologi apa yang kini di anut oleh pemerintah Indonesia; membiarkan masyarakat adat Kinipan kehilangan sumber dayanya yang diperoleh dari dalam hutan; merepresif masyarakat Wadas demi kepentingan kebutuhan bahan material seperti tanah timbunan dan batu untuk proyek bendungan; Anak-anak Lakardowo menangis kesakitan, Orangtua terbaring lemas, Kulit mereka dipenuhi luka melepuh, gatal tak tertahan. Di wajah, punggung, bahkan kelamin karena limbah beracun yang mencemari air di sana, sekaligus Jokowi menghapus jenis limbah beracun dari kategori limbah berbahaya (fly ash dan bottom ash). Lalu, di manakah peran pemerintah ikut berpartisipasi atas kepentingan rakyatnya.
Kalau toh dikatakan PKI bersalah pada peristiwa G30S, lantas mengapa orang bersalah yang sedang hidup dalam tatanan demokrasi tidak di adili, bahkan yang sekedar tertuduh berafiliasi dengan Partai Komunis harus mati. Padahal Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia tupoksinya adalah mengurus tentang pengadilan, dan penjara atas orang-orang yang bersalah.
Sungguh pertanyaan yang besar bagi saya setelah menonton You And I, mengapa mereka dibunuh dan bagi yang masih hidup sebagai eks-tapol, mereka di asingkan. Kenapa juga pemerintah pada saat itu membubarkan PKI dengan alasan ketertiban negara sedangkan sekarang nagaralah yang ketertibannya absen terhadap rakyat.
Tak elok rasanya membayangkan ada dua orang penyintas yang tengah bertahan hidup di tengah usaha pengasingan negara. Selain Kamilah dan Kusdalini, saya rasa masih banyak eks-tapol lainnya yang bertahan sebagai orang-orang yang coba di asingkan pemerintah. Pada tahun 2011 misalnya, eks-tapol Nani Nona Nuraini ditolak menerbitkan KTP seumur hidup dan kebijakannya hanya diganti dengan perpanjangan KTP selama lima tahun.
Tak Hanya itu, Sakono Prapto Yuwono yang juga merupakan eks-tapol asal Purwekerto saat itu sudah mengantongi surat tugas untuk menjadi guru di Purbalingga. Namun di tengah perjalanannya menuju Purbalingga, Sakono dicekal—tanpa alasan penangkapan yang jelas—ditengah jalan dan di buang ke Pulau Buruh sekitar tahun 1970-an. Entah kedepannya apa dan bagaimana lagi pemerintah memperlakukan para eks-tapol.
Bahkan harapan mereka yang sekedar mengadakan pertemuan untuk membahas soal jaminan kehidupan sosial mereka di masa mendatang dengan pihak pemerintah tak kunjung di gubris. Pemerintah juga sering membubarkan beberapapertemuan-pertemuan eks-tapol tanpa alasan atau menunjukkan pelanggaran yang jelas.
Di akhir film You And I, saya pribadi merasa, Fanny Chotimah sebagai sutradara membentangkan masalah yang begitu kompleks dalam pergumulan sejarah kita. Penonton dibuat menjadi saksi atas Kematian Mbah Kamilah sebagai pemantik ketakutan di masa depan. saya yang dipertontonkan hal tersebut jadi bertanya-tanya; apakah penyintas seperti Mbah Kus dan Mbah Kam akan tetap bertahan hidup demi memperjuangkan sejarah bangsa ini atau malah di terus di bredel pemerintah.
You And I membuat ingatan yang baru tentang sejarah; peristiwa G30S yang berusaha dikait-kaitkan dengan PKI oleh Orde Baru adalah kesalahan yang besar. Bukan tentara yang terdzolimi, melainkan keluarga korban pembantaian.
Dari peristiwa lain, mahasiswa ekskil, buruh tani, seniman Lekra, alumni Pulau Buru, anggota Gerwani, simpatisan Bung Karno, serta orang-orang yang dituduh dan di kait-kaitkan PKI dengan peristiwa G30S itulah yang sesungguhnya terdzolimi oleh negara melalui institusi militer; ormas; dan organisasi-organisasi yang di asuh oleh pemerintah.
Saat menonton, mungkin saya dan penonton You And I lainnya akan di buat menangis karena Kematian Mbah Kamilah di penghujung film. Namun suatu saat nanti jika kita tidak tetap berjuang untuk mereproduksi cerita-cerita sejarah yang berusaha di lupakan, saya yakin kita akan menangis karena kita telah kehilangan sebuah sejarah yang megah.