Iklan

Pramoedya Ananta Toer (1952-Abadi)

Lapmi Ukkiri
30 April 2021
Last Updated 2021-04-30T15:47:29Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates
masukkan script iklan disini


LAPMI, UKKIRI- Hari ini 10 tahun yang lalu, tepatnya 30 april 2006, Pramoedya Ananta Toer mengembuskan nafas terakhir di kediamannya, Utan Kayu, Jakarta Timur.


Pram lahir di Blora, 6 Februari 1925, Saat itu penjajahan kolonial Belanda sedang berlangsung. Di masa revolusi kemerdekaan 1945-1949, Pram adalah Letnan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dalam Resimen 6 Divisi Siliwangi di Cikampek pada 1946.


Pram dikenal sebagai sastrawan yang memuat berbagai macam sejarah yang ada di indonesia melalui novel-novelnya. Di mata dunia, Pram mendapat perhatian yang luas dan besar. Karyanya yang paling terkenal adalah Tetralogi Buru, yaitu empat seri novel yang di tulis selama masa tahanan dan kerja paksa di Pulau Buru, di antaranya: Bumi Manusia (1980), Anak Semua Bangsa (1981), Jejak Langkah (1985), dan Rumah Kaca (1988).


Jauh sebelum kerja paksa di Pulau Buru, Pram telah lama mempersiapkan bahan tulisannya mengenai Tetralogi Buru sebagai roman yang menceritakan Periode Kebangkitan Nasional. Mulai dari menyalin buku-buku yang di bacanya, meriset dokumen-dokumen, dan mengumpulkan wawancara yang dibutuhkannya sekitar tahun 1965-an.


Dari beberapa novel yang ditulis Pramoedya selama masa tahanan di Pulau Buru, hanya satu karya non-fiksi yang di tulisnya, yaitu Nyanyian Sunyi Seorang Bisu. Saat itu naskahnya sudah siap cetak sejak 1987, namun tidak ada percetakan yang berani mencetaknya karena ketegangan suasana politik di masa Orde Baru pada saat itu.


Berkat bantuan beberapa wartawan muda dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI), akhirnya tulisan itu dicetak dan dikerjakan dalam keadaan yang tergesa-gesa selama lima hari. Pencetakan itu dilakukan sembunyi-sembunyi menggunakan kertas koran dan penjilidan yang rapuh.


Namun setelah di cetak, Nyanyian Sunyi Seorang Bisu hanya sempat beredar selama 10 hari. Buku tersebut di rampas dari peredarannya oleh pemerintahan Soeharto melalui Golkar dan militer sebagai mesin kekuasaannya pada saat itu.


Tidak hanya itu, banyak naskah Pram yang belum dicetak dan yang sudah kemudian di rampas bahkan di bakar oleh pemerintahan Orde Baru karena ia di tuduh menyebarkan ajaran Marxisme-Leninisme. Di kutip dari Saya Ingin Melihat Semua Ini Berakhir (2008), Jaksa Agung menilai buku-bukunya menyebarkan konsep-konsep tersebut menggunakan data-data sejarah.


13 Oktober 1965, rumah Pram di Rawamangun dilempari batu oleh segorombolan orang yang tidak diketahui. Batu besar menghancurkan pintu rumahnya. “Pengecut, bukan begini caranya berjuang! Saya juga pejuang! Sini pemimpin kalian! Mau apa kalian? Kalau berani, datang ke sini!", Teriak Pram murka sambil memegang samurai di depan rumahnya.



Tak lama kemudian tentara mendatanginya dan menahannya. Beberapa barangnya disita dan naskahnya di bakar. Ketika ditahan, Pram melanjutkan novel Gadis Pantai yang baru rampung bagian pertamanya. Namun, naskah kedua dan ketiga dari novel itu ikut dibakar tentara. Pram menyebutnya dalam Saya Ingin Melihat Semua Berakhir, Trilogi yang direncanakan ini sedikit banyaknya bercerita tentang sejarah perempuan di Indonesia. Di antaranya tentang Kartini.


Menyimpan, memperjual-belikan, dan membaca karya Pramoedya di anggap sebagai kejahatan dan mempunyai akibat hukum di tahun 1965-an. Bahkan kampus pun menjadi perpanjangan tangan pemerintah untuk melarang peredaran buku-buku Pram di kalangan mahasiswa.


Pertengahan 1981, Pram di undang sebagai pembicara di Fakultas Ilmu Sosial (FIS) UI. Saat itu ia berbicara tentang peran intelektual dunia ketiga. Di tengah kegiatan berlangsung, aparat kampus datang membubarkannya.


Dimuat di koran tempo edisi 24 Oktober 1981 dengan judul "Ekor Sebuah Diskusi", 4 fungsionaris senat mahasiswa FIS UI di pecat karena menyelenggarakan kegiatan tersebut. Di antaranya: Refendi Djamin, Widi Krastawan, Verdi Yusuf, dan Alexander Irwan.

Pramoedya pernah berkata kepada Hilmar Farid (Direktur Jendral Kebudayaan Indonesia 2015) saat tergeletak sakit di rumahnya di Utan Kayu, "Semuanya sudah saya serahkan kepada indonesia. Semuanya. Tapi kenapa begini jadinya." Kata Pram menangis.


Di era era reformasi ini, karya pram mendapatkan sedikit keleluasaan untuk dibaca, di perjual-belikan, bahkan di simpan. Meski masih banyak penyitaan buku dengan alasan penyebaran ajaran Komunisme. Pelajar, mahasiswa bahkan peneliti tidak lagi sesulit tahun-tahun Orde Baru untuk mendapatkan buku-buku Pramoedya, juga mengoleksinya.


"Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah." Pramoedya Ananta Toer, Rumah Kaca.


Reporter: Ziyad Rizqi

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl