Iklan

Refleksi Agar Politik Tidak Hanya di Jadikan Parameter Kekuasaan Semata

Lapmi Ukkiri
23 November 2020
Last Updated 2020-11-23T14:17:50Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates
masukkan script iklan disini
 Pic Google.com

Oleh: Irmawati
(Mahasiswa Semester 3. Jurusan ilmu perpustakaan)

Bicara konteks politik tentunya tidak terlepas dari kekuasaan yang ada bagaimana melihat dalam rana individu yang denterminasi hasrat bukan pada fitrah manusia artinya fitrah disini adalah kecenderungan manusia pada sesuatu yang baik dalam konsep fitrah tidak ada yang menolak kebaikan namun yang menjadi permasalahan adalah bagaimana kita sampai politik yang adil?

Pada dasarnya politik itu baik tapi kadang kita dibawa oleh hasrat untuk mencapai sesuatu yang berlebih-lebihan nah ini menjadi pokok permasalahan kita.

Presfektif Murtadha Muthahhari dalam diri manusia ada tiga yakni fitrah, hasrat dan imajinasi. Lantas bagaimana posisi dalam diri manusia, pertama fitrah itu adalah potensi untuk sebuah kebaikan, dan hasrat adalah sesuatu yang awalnya baik namun ketika di gunakan berlebihan akan mengakibatkan kita rakus pada kekuasaan misalnya, imajinasi di sini sebenarnya masih memiliki pembagian yakni imajinasi yang baik dan imajinasi yang berbentuk waham atau nafsu pada diri manusia. Lalu bagaimana kita mengkontrol semua ini?

Tentunya dengan basis pendekatan teoritis terhadap peranan kita diciptakan bukan pada prinsip pengingkaran atau tidak lagi pada kecenderungan kebaikan tapi sudah melenceng dari asas penciptaan kita di semesta ini. Dan untuk mengolah semua ini kita membutuhkan kesadaran dalam diri untuk mengontrol hal yang tidak berlebihan dari diri kita tentunya dengan basis pengetahuan. Yang pertama saya ingin mendudukkan bahwa konteks politik mesti melihat aspek ke agamaan artinya konteks keagamaan ini mendirikan tempat ibadah itu yang pertama sebagai basis pendekatan kita kepada Tuhan. Apakah fasilitas ibadah menjamin ketaatan kita pada Tuhan?

Melihat fenomena yang ada ternyata tidak faktanya tempat ibadah berceceran dimana mana namun pada tataran ini manusia masih tidak memiliki konteks kesadaran untuk mencapai ke tataan kepada tuhan. Lantas bagaimana cara kita sampai pada kesadaran?Tentunya kita tidak terlepas dari pengetahuan sebagai basis kesadaran manusia untuk mencapai sebuah pengetahuan atau untuk mengetahui pontensi daripada fitrah itu sendiri, mengapa mesti berpengetahuan?

Pengetahuan bukan hanya bercerita tentang konteks teoritis namun ia juga berbicara perosalan praktis manusia dari apa yang ada di dalam konsep manusia. Lantas bagaimana bisa mengaktualisasi konsep pada realitas? Tentunya kita tidak terlepas pada Rana pengetahuan tentang kesadaran manusia melihat aspek bahwa potensi fitrah tidak hanya bergerak pada diri manusia saja tetapi ada aktualisasi yang mesti di tuangkan di realitas agar memiliki nilai baik dalam diri individu maupun ruang lingkup sosial Agar etika kita dan moral bisa di terapkan dalam prinsip kehidupan kita.Untuk menukik lebih jauh lagi kita tentunya membutuhkan sebuah informasi primer atau relasi langsung di alam ini untuk memperoleh sebuah informasi dan di kontruksi oleh pikiran manusia untuk sampai pada informasi sekunder atau tidak lagi berhubungan dengan alam secara langsung.Konteks politik yang saya maksud adalah melihat realitas sosial sebagaimana kita berkiblat pada informasi terdahulu yang dimana konsep politik yang adil bisa di capai secara mandiri bila kita memakai pendekatan agama. Mengapa harus agama sebagai pendekatan dalam politik ?

Pertama saya ingin jelaskan bahwa kita mesti berkiblat pada perilaku tuhan artinya kebijakan dan keadilan yang dimiliki. Cara untuk mengetahui prinsip itu bagaimana?Tentunya kita membutuhkan informasi sekunder yakni melalui kenabian, mengapa harus nabi karena konteks kenabian ia yang paling dekat dengan Tuhan atau bisa dikatakan sebagai konsep pembawa risalah kebaikan tentang pesan pesan tuhan untuk manusia.Dengan melihat Prinsip kenabian, yang pertama nabi itu baik dan bersikap adil atas istri-istrinya dan orang yang ada dalam ruang lingkup keluarga kemudian keadilan ini di terapkan pada wilayah masyarakat.

Dari sini kita menilai bahwa ketika kita memakai konsep teori nabi dalam aspek moral dan keadilan sebagai ajang politik kita akan mencapai keadilan serta kemakmuran dalam masyarakat.Tinggal bagaimana kita bergerak pada kesadaran dan mengaktualisasikan prinsip fitrah kita yang cenderung pada kebaikan. Sebagaimana dari awal saya menjelaskan bahwa tidak ada manusia yang menolak sebuah kebaikan. Artinya ada konsep teoritis yang kita bangun berdasarkan informasi dari tendensi kesadaran bukan karena hasrat kemudian menghasilkan praktis sebagai bentuk aktual dari teoritis.

Dan dari basis kesadaran yang kita bangun menimbulkan kontruksi untuk berbuat baik dan yang lainnya berhubungan dengan keadilan di ruang lingkup kita. Selain sebagai bentuk prinsip tetapi sebagai bentuk ketauhidan tuhan atas perilaku kita.Dan yang bisa saya simpulkan yakni dengan basis fitrah sebagai jalan kesadaran untuk mencapai sebuah kebaikan, dan dari sini kita tidak ingin berpolitik mengikuti hasrat yang berlebih artinya keluar dari kebutuhan yang ada. Dan konteks pendekatan teoritis dari pembentukan informasi sekunder dari nabi langsung dari tuhan.

Yang kedua tidak ada konteks politik yang menjadikan kita sebagai manusia yang rakus karena kita mengetahui konsep yang ada pada diri kita yang di titipkan pada Tuhan.


iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl