masukkan script iklan disini
Oleh Mujahidin
Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) merupakan organisasi mahasiswa yang menjujung tinggi nilai-nilai kemuatan dan kebangsaan sehingga HMI mampu melahirkan kader-kader yang progresif. Sampai sekarang HMI masih berdiri kokoh disetiap kampus dan mengibarkan bendera dengan lambang bulan bintang yang didasari dengan warna hijau hitam. Hampir diseluruh kampus yang ada di Indonesia, HMI memiliki kader untuk melanjutkan estafet kepemimpinan.
Karena besarnya nama HMI ini maka banyak sekelompok orang-orang yang ingin menjatuhkan eksistensinya sehingga posisi HMI sangat terancam pada tahun 1960an. Kelompok yang ingin menjatuhkan HMI pada saat itu adalah CGMI (Onderbow PKI) yang mendesak Soekarno untuk membubarkan HMI karena mereka mengatakan bahwa HMI notabenenya kontra revolusi.
Salah satu orang yang memberikan ceramah terhadap Nurcholis Madjid, yaitu Mar'ie Muhamad, buku yang ia tulis adalah sosialisme islamnya H.O.S Tjokroaminoto. Nurcholis sangat tertarik dengan ceramah yang beliau sampaikan sehingga ia mempelajari buku tersebut lebih dalam lagi. Setelah mempelajari buku tersebut, Nurcholis kemudian menulis khusus risalah yang berjudul Dasar Dasar Islamisme, lalu ia menggunakan risalah itu sebagai bahan ceramah diberbagai training-training yang diadakan oleh HMI Cabang Ciputat.
Karena hal itulah ia mendapatkan tempat tersendiri dikalangan HMI diseluruh cabang sehingga banyak dukungan dari anggota HMI untuk mendorongnya memperoleh kursi ketua Umum PB HMI pada masa itu.
Tahun 1966, Nurcholis dipilih sebagai ketua umum PB HMI berkat dari dorongan dan dukungan diseluruh cabang, sebuah periode yang sangat menentukan bagi bangsa Indonesia karena pada masa itu adalah masa transisi kekuasaan dari Soekarno ke Soeharto.
Saya sangat bangga dengan orang yang akrab disapa dengan sebutan Cak Nur ini karena beliau adalah salah satu kader HMI yang namanya tetap abadi disetiap jiwa anggotanya sampai saat ini karena dengan ide dan gagasanya sehingga lahirnya pedoman anggota yaitu Nilai Dasar Perjuangan (NDP).
Pada kongres di Solo tahun 1963, Cak Nur menantang salah satu kebijakan PB HMI dengan alasan bahwa ia sangat anti dengan penguasa sehinga dengan lantang menyatakan tidak usah menjilat dengan penguasa (namanya juga mahasiswa harus memiliki idealisme), faktor inilah yang paling signifikan yang mendorong karirnya di HMI yakni integritas pribadinya sendiri.
Seorang Nurcholis Madjid mencapai kebesarannya sebagai pemikir karena ide-ide pembaruannnya untuk mencari persenyawaan yang kreatif dan produktifitas antara keislaman dan kebangsaan. Walaupun Cak Nur dicaci maki, tetapi berkat keberanian dan rasionalitasnya sehingga ia tetap ada dalam garis kebenaran.
Ide-ide pembaruannya lambat laut menjadi populer bagi biduk-biduk yang limbung ditengah samudra krisis aktualisasi diri kelompok islam dalam konteks kebangsaan dan kemoderenan.
Cak Nur Meletakkan konsep pembaruannya dalam rentangan dinamika. Ia melakukan pembaruan lewat tindakan-tindakan yang berorientasi untuk masa depan bangsa dan umat islam.
Saat Nurcholis memimpin di HMI yang mulai memasuki masa orde baru. Ini semua membuktikan bahwa HMI sangat berpengaruh saat dipimpin oleh sang Guru Bangsa.
Hal yang lumrah ketika saya otokritik terhadap HMI karena dilihat dari realitas yang terjadi saat sekarang. HMI telah dikotori oleh orang-orang tidak memiliki idealisme sehingga generasi mengikuti pola "abang-abangnya" yang ingin berkuasa dan perlu kita tanamkan dalam membangun konsensus bagi lahirnya tradisi organisasi yang baik. Masa depan HMI ditentukan olah anak HMI sendiri bukan alumninya atau orang lain, apalagi oleh penguasa negara ini.
Setiap manusia memiliki potensi untuk membawa perubahan bagi dirinya maupun bangsa dan negara. Kegentingan yang kerap mendorong manusia untuk berpikir dan berani mengambil sikap pada situasi yang sulit dengan resiko dengan mempertahankan kemujudan pemahamnnya dan komunitasnya.
Menopang pendirian dengan ide pembaharuan dengan mencerahkan pemahaman sekelompok orang meski berisiko disalahpahami dan dihina.
Patutlah kita bercermin pada Cak Nur ini, seorang pemikir besar memiliki jiwa yang tangguh memancangkan ide dan gagasannya karena ide-ide pembaruannnya sangat relevan dengan masa modern saat ini untuk mencari persenyawaan yang kreatif dan produktifitas antara keislaman dan kebangsaan.