masukkan script iklan disini
Oleh Zulfikarni Bakri
Feminisme merupakan salah satu konstruk sosial pada kajian gender, hal ini dilatar belakangi akan adanya ketimpangan berdasarkan lakon ditengah masyarakat. Perilaku yang dipandang sebagai feminim dan maskulin dan peran apa yang dilakukan oleh laki-laki dan perempuan. Maka muncullah dikemudian hari seberapa banyak kerja antara keduanya? Ketika orang sudah berbicara tentang kuantitas pola pembagian kerja maka muncul dogma banyak dan sedikit, dimana yang banyak menjadi lebih unggul dan berkuasa sedangkan yang sedikit di anak tirikan bahkan bisa dikatakan "terbuang". Disisi lain munculnya feminisme yang merupakan kritik perempuan terhadap laki-laki yang cenderung patriarki selalu memandang dirinya adalah subjek sementara perempuan adalah objek.
Kritik pada perilaku yang tidak "adil" membuat para aktifis yang menyebutkan dirinya sebagai pejuang perempuan atau penganut paham feminisme mulai dipandang dan imami. Mereka berteriak menyuarakan kesetaraan gender, emansipasi wanita, namun apakah betul-betul mengetahui tindakan mereka? Menurut Martin Bandel dalam bukunya yang berjudul Kajian Gender dalam Konteks Pascalonialisme (2016). Feminisme adalah wacana kolonial, maksudnya, paham barat yang superior terhadap budaya timur. Orang barat menghadirkan standar perempuan berdasarkan kehidupan mereka sendiri, hidup bebas, hak penuh pada pilihan mereka masing-masing. Hal ini tidak terlepas dari sejarah mereka. Berangkat dari sejarah revolusi industri Prancis abad ke 18, perempuan merasa pergerakannya dibatasi oleh masyarakat terutama laki-laki. Pemikiran perempuan disebut lebih mementingkan emosional mereka saat berpendapat ketimbang rasional mereka, sehingga parlemen pemerintahan, ekonomi yang berhubungan dengan sosial dikendalikan oleh laki-laki saja.
Sementara, perempuan timur terkungkung pada banyak aturan yang mengikat, seperti; keluarga, lingkungan, adat, dan agama. Maka hadirlah manusia barat sebagai penolong bertopeng kesatria yang memasang perisai dan mengulurkan tangan guna membebaskan perempua timur, dalam kasus ini perempuan Nusantara.
Salah satu potret perempuan Nusantara bisa kita lihat pada kumpulan surat tokoh emansipasi, RA tokoh Kartini, dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang, secara gamblang menggambarkan perempuan ningrat yang hidup ditengah tengah peraturan adat istiadat yang mengikatnya, contoh; cara duduk, suara perempuan yang harus dikecilkan pada saat berbicara, lebar bibir saat tertawa, bahkan cara berjalan sekalipun dengan jelas di deskripsikan oleh Kartini. Ia menantang ketidakadilan perempuan dan laki-laki di bidang pendidikan, karena dalam kasus di keluarganya, kakak laki-lakinya diizinkan untuk bersekolah di Belanda sementara dirinya tidak namun menjalani proses pingit. Ia juga menolak poligami namun pada akhirnya menerima poligami sendiri. Kartini Bandel kemudian mempertanyakan feminin yang ada pada diri Kartini karena meskipun menolak dan bergejolak untuk menghapus ketidak setaraan yang diterima namun pada akhirnya ia legowo pada nasibnya. "Sekarang saya diuji: saya ini dapat berbuat apa" salah satu kutipan Kartini (2014: 472) saat ia batal melanjutkan pendidikan ke Belanda dan menerima perjodohan.
Namun, apakah feminin juga berlaku buat perempuan Sulawesi? Secara konteks sosial kita sudah mengenal pembagian kerja dan tidak mempermasalahkan itu, dimana laki-laki lebih dominan pada kerja fisik. Contoh kecilnya pada proses kerja di sawah, laki-laki membajak, memperbaiki petakan sawah, dan memikul karung-karung gabah. Sementara perempuan, mencabuti bibit padi, memotong padi dan kadang membantu laki-laki menanam padi. Bukan hanya itu, ketika laki-laki bekerja maka peran perempuan dengan sigap menyediakan urusan perut kepada pekerja laki-laki dan membawanya ke tempat bekerja dalam hal ini disebut "akbokong".
Mari kita tengok masyarakat kajang, laki-laki menganggap perempuan adalah partner kerja, dimana laki-laki bekerja di kebun atau sawah, perempuan mengurus pakan di rumah lalu disela itu mereka menenun tope lekleng Dan dijual ke pasar.
Menurut pandangan saya, tidak akan ada aksi feminisme dalam masyarakat ketika kita sama-sama tahu pembagian kerja seperti diatas dan tidak ada tumpang tindih pada pemikiran antara kedua gender ini. Alangkah baiknya ketika kita menganut paham perempuan lokal yang sangat paham akan 3 dasar yang harus dilakukan secara kodratinya sebagai perempuan, yakni " masak, macak, mamak). Mari kita urai satu persatu, 1) masak atau memasak, merupakan hal urgent yang harus diketahui perempuan, karena dengan memasak, perempuan akan menjadi seorang ahli. Dengan memasak perempuan akan melakukan perjamuan pada seluruh keluarga atau tamu yang datang. Kata perjamuan yang berasal dari kata jamu (obat), maka perempuan disini akan menjadi ahli biologi. Takaran garam, micin yang ditaruh kedalam makanan maka perempuan bisa disebut ahli kimia yang mencampurkan senyawa yang berbeda ke dalam makanan. Bagaimana jika ternyata perempuan tidak ahli kimia, bisa jadi mereka akan meracuni satu keluarga. Perempuan tentu saja ketika proses pemilihan bahan memasak disebut juga ahli gizi bukan?
Ke dua, macak atau berdandan, banyak yang salah kaprah pada hal berdandan. Perempuan terlalu terbuai akan indahnya pesona para artis iklan yang mengiming-imingi "putih mulus" pada setiap prodak penjualannya. Mereka kemudian berlomba-lomba menjadi konsumen untuk mempercantik diri berdasarkan standar yang ada pada iklan. Faktanya, berdandan bukan hanya pada kata make up saja melainkan lebih kepada makna merawat, mendandani, menata, meruwet urusan rumah tangga, tentu pada bidang ini perempuan akan menjadi ahli manajemen. Bagaimana jika pada kodrat "macak" perempuan hanya fokus pada mempercantik muka saja? Ketidak pahaman perempuan disinilah, maka banyak urusan rumah tangga diurus oleh orang lain.
Yang terakhir adalah manak atau melahirkan. Keunggulan perempuan adalah Tuhan menitipkan rahim sebagai pondasi awal terwujudnya perubahan. Dari segi ini, perempuan akan menjadi sosok yang asuh asah asih.
Lantas perlukah perempuan lokal menjadi seorang feminin? Mari kita tengok sejarah kerjaan Gowa yang dipimpin pertama kali oleh raja yang bernama Tomanurung Baines, seorang perempuan pada abad ke 14. Masihkah kita perlu berteriak "kesetaraan gender" ketika dalam masyarakat kita sudah baik-baik saja ataukan kita terlena pada wacana barat terhadap perempuan timur?