masukkan script iklan disini
Oleh; Askar Nur
Seperti biasa kala sore mulai menerpa, beberapa aktivitas terlakoni di halaman fakultas mulai dari pantikan sedikit wacana yang berkembang menjadi pendiskusian alot sekedar melepaskan penat dari semalam yang panjang dengan pergolakan wejangan di halaman kata-kata hingga pagelaran tarian yang memadu kasih dengan taburan gendang yang dipertontonkan oleh para pekerja seni fakultas. Mereka mempersiapkan segalanya dengan maksimal demi mencicipi panggung Festival Kesenian yang sebentar lagi akan digelar di Mamuju dan juga tentunya membawa nama baik fakultas dan kampus pula.
Serangkaian kegiatan tersebut hanya mampu dilakukan di halaman fakultas bukan karena ruangan dalam fakultas tidak mencukupi melainkan karena jadwal kunjungan yang hanya berlaku sampai jam 17.00 kalaupun lewat dari jam yang ditentukan dan masih ada kegiatan dalam fakultas maka tidak ada kebijaksanaan, pintu harus tetap ditutup dan silahkan bergembira riang bersama nyamuk di dalam fakultas. Sebuah kebanggaan tersendiri karena prinsip kedisiplinan masih dijunjung tinggi dan aturan ditegakkan dengan tegas dan itu merupakan contoh kecil penegakan aturan yang seharusnya dilirik oleh institusi lain yang masih bermain-main dengan sebuah aturan di luar sana. Namun sebelum menyoroti inti dari tulisan ini, rasanya perlu melirik sejenak aturan 'pelumpuhan' segala aktivitas di atas jam 17.00 di kampus dengan sebuah pertanyaan singkat, apa maksud dan tujuan dari aturan jam malam tersebut? Tentunya jika dijawab dengan spontan maka kira-kira jawabannya seperti ini "ini demi keamanan kampus...", "karena banyak peristiwa yang pernah ditemukan antara mahasiswa A dan B menggunakan arena kampus tidak sebagaimana mestinya..." dan jawaban-jawaban lain yang hampir sama (jika pembaca punya jawaban tersendiri, silahkan ditambahkan) tapi pertanyaan tersebut harus dijawab dengan penelaahan yang mendetail disertai verifikasi data faktual dan kalaupun jawabannya hampir mirip dengan jawaban di atas, saya pikir itu merupakan tanggungjawab dari keberadaan pihak keamanan (security) di kampus.
Kembali ke bahasan awal, singkat cerita suatu sore yang tidak terlalu menawan seperti sore sebelumnya dengan kejadian yang sedikit memaksa kejengkelan lahir dalam diri. Saat kawan-kawan mahasiswa yang tergabung dalam sebuah komunitas seni di fakultas yang berdasarkan analisa pribadi telah mengharumkan nama fakultas dan kampus di setiap pertunjukan atau event kesenian yang pernah diikuti di berbagai daerah melakukan latihan persiapan di depan fakultas untuk sebuah event yang akan digelar di luar provinsi dan tentunya kembali membawa nama baik fakultas (kalau kita mau hitung-hitungan, seharusnya kan mereka diberikan ruang untuk latihan yang layak agar tidak melulu latihan di alam bebas karena mereka kan sudah beberapa kali mengharumkan nama fakultas di luar. Yah, kiranya ada bentuk apresiasi fakultas terhadap mereka meskipun mungkin mereka juga agak menyukai latihan di alam bebas yang lebih mengolah jiwa dan raga mereka agar tidak kaku melihat kondisi sekitar tapi setidaknya fakultas sekedar menawarkan. Namun sayangnya kami tidak pernah dididik untuk hitung-hitungan terhadap sesuatu yang pernah dilakukan oleh para pendahulu kami).
Dan di dalam fakultas juga, salah satu HMJ tengah berunding dengan para pengurusnya memikirkan kegiatan besar yang akan mereka laksanakan yang menurut informasi mereka akan menghadirkan tokoh nasional nantinya, sebuah usaha yang perlu kiranya diapresiasi bukan malah membiarkan mereka terkurung di dalam fakultas dikarenakan waktu kunjungan berakhir sehingga cleaning service menjalankan tugasnya dengan mengunci fakultas sesuai instruksi atasan. Dalam kondisi terkurung di dalam fakultas, salah seorang mahasiswa yang sementara latihan di depan fakultas tepatnya pemain gendang berinisiatif untuk pergi menemui salah seorang cleaning service yang juga merupakan 'juru kunci' di rumahnya karena keseringan terkurung di dalam fakultas sehingga perkenalan antara sebagian mahasiswa dan juru kunci fakultas terjalin harmonis meski kerapkali ia merasa jengkel karena waktu istirahatnya kerap direbut untuk hanya diminta membuka kunci fakultas tapi ia tetap juga melakukannya, mungkin karena kasihan dengan mahasiswa yang terkurung bersama dengan nyinyiran nyamuk.
Singkatnya, saat si mahasiswa pemain gendang tadi sebut saja Cokro kembali ke fakultas dengan membawa kunci dan segera membuka pintu fakultas. Para mahasiswa yang sempat terkurung akhirnya bebas, mereka berbondong-bondong menuju pintu keluar dengan raut muka yang kurang mengenakkan dan tentunya perasaan jengkel terhadap kondisi yang baru saja mereka alami untuk kesekian kalinya. Sekedar informasi, fenomena terkurung dalam fakultas dikarenakan waktu kunjung berakhir bukanlah kali pertamanya terjadi melainkan sudah beberapa kali.
Setelah semuanya dipastikan bahwa tidak ada lagi mahasiswa yang tersisa di dalam fakultas, Cokro kemudian mengunci kembali pintu dan bergegas mengembalikan kunci tersebut ke tangan cleaning service yang sekaligus sebagai juru kunci selain Pak Uci sembari para mahasiswa yang tergabung di kepengurusan salah satu HMJ di fakultas bergegas pula meninggalkan fakultas untuk melanjutkan kembali perundingan kegiatan mereka di luar kampus. Cokro kembali memadu kasih dengan gendang dan melanjutkan latihannya dengan serius agar bisa kembali mengharumkan nama baik fakultas dan kampus di kancah festival kesenian mahasiswa seperti di Festival Teater di Polman sebelumnya yang berhasil meraih juara umum.
Segera setelah semuanya kembali ke rutinitas masing-masing, berselang beberapa menit terlihat 5 orang mahasiswa berpawakan rapi salah seorang menggunakan kacamata tengah berjalan menuju fakultas dan setelah sampai di depan pintu fakultas, terlihat salah satu di antara mereka tanpa pikir panjang menyodorkan sesuatu ke lubang kunci dan "krekkk", pintu fakultaspun terbuka. Ternyata, kelima mahasiswa tersebut diketahui berasal dari jurusan yang sama jurusan yang terbilang tua di fakultas dan juga mengantongi kunci fakultas, tanpa beban mereka kemudian menuju lantai paling atas di ruangan paling pojok di fakultas.
Selain daripada Pak Uci dan Cleaning Service lain sebagai 'juru kunci', ternyata fakultas juga memiliki juru kunci baru yakni kelima mahasiswa tersebut dan tentunya secara otomatis sebagai bentuk tesis, kita bisa mengatakan bahwa bukan hanya Pak Uci dan cleaning service yang bisa memegang kunci pintu fakultas melainkan mahasiswa pula. Kalaupun kelima mahasiswa tersebut memiliki kegiatan di fakultas saat itu dan mendapat izin berkegiatan dalam ruangan berarti fakultas bisa dikatakan kurang mengindahkan aturan jam malam karena kegiatan tersebut dilaksanakan di dalam fakultas bukan halaman fakultas ditambah lagi dengan pemberian kunci pintu fakultas meskipun kerap juga diadakan kegiatan malam di sekitaran fakultas tapi melalui perizinan di pihak universitas dan security, itupun tidak menggunakan fasilitas dalam hal ini ruangan di dalam fakultas.
Selanjutnya, kalaupun tidak mendapat izin dari fakultas lantas siapa yang memberikan izin kepada kelima mahasiswa tersebut dan memberinya kunci fakultas untuk beraktivitas di dalam ruangan? Rasanya kurang adil jika kelima mahasiswa tersebut bisa dengan mudah membuka pintu fakultas di atas jam operasional dan dilengkapi dengan kunci pintu tersendiri sementara kawan-kawan mahasiswa lainnya utamanya para pengurus Lembaga Kemahasiswaan (LK) kerapkali terkurung di dalam fakultas dan harus rela beberapa waktu menjadi santapan nyamuk yang tidak taat aturan. Pernah beberapa bulan lalu salah satu HMJ di fakultas tengah melaksanakan kegiatan yang terbilang penting untuk kelangsungan kepengurusan satu periode ke depannya tapi nasib yang kurang beruntung yang tidak seperti dialami kelima mahasiswa tersebut harus dirasakan pengurus HMJ, mereka harus rela melanjutkan Rapat Kerja di depan pintu fakultas tepatnya di arena parkir pimpinan dikarenakan LT yang sebelumnya digunakan telah mengalami masa tenggang operasional dan beberapa kisah kasih yang pilu yang pernah dirasakan LK yang lainnya tentu tidak seberuntung kelima mahasiswa tersebut.
Semoga catatan ini dapat bertemu dengan kelima mahasiswa tersebut supaya bisa berdiskusi panjang-lebar perihal pedoman atau tutorial cara mendapatkan kunci pintu fakultas bagi mahasiswa. Semoga saja!