Iklan

Perempuan, Media, dan Dilema Hijab

Lapmi Ukkiri
17 February 2019
Last Updated 2020-06-23T04:28:28Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates
masukkan script iklan disini
Pic by pixabay

Oleh Muhammad Syarif Hidayatullah 
[Presiden Salaja Pustaka Indonesia, Mahasiswa Bahasa dan Sastra UIN Alauddin Makassar]

Saya kembali teringat dua malam terakhir adik satu-satunya perempuan penulis menanyakan kabar dan bercerita tentang keadaan di kampung termasuk kegiatan-kegiatan sehari-hari yang padat. Ia menceritakan dengan lepas dan penuh semangat kegiatannya sejak bangun pagi-pagi sekali menyiapkan makanan sarapan bagi orang-orang rumah, cuci piring, mengemas terlebih awal di malam hari buku-buku pelajaran (setelah sekarang dipikir-pikir penulis, untuk apa seluruh mata pelajaran dengan segala kerumitan jam terbang dan ragamnya yang diajarkan itu sangat dipaksakan untuk dipelajari kepada para siswa?) laptop tipe lama dan berukuran besar milik kakak yang harus dijunjung di punggung saudara perempuan saya saat ke sekolah.

Sebelum itu ia harus membuat sejenis permen coklat yang dibuat dengan cara tiap bungkus bubuk coklat dipanasi dengan setrika hingga meleleh kemudian dibentuk padat menjadi permen selanjutnya dikemas rapi agar dijual kepada teman sekolah dan sebaya hingga pulang sekolah pukul setengah empat sore, itupun jarang tanpa tugas-tugas struktural kelas, pekerjaan rumah (PR) dan tugas kelompok tak boleh langsung ditinggali dan semua rutinitas itu telah menanti. Alhasil ia harus pulang ketika senja sore tak terlihat lagi.

Kegiatan seorang perempuan dalam keseharian saudara saya tersebut mencerminkan kembali peran dan status para perempuan di era media dan informasi.

Perempuan menemukan medium baginya untuk berkomunikasi dan menjalankan perannya dengan kebebasan yang diberi oleh era teknologi informasi namun saat yang sama para perempuan tersubordinasi oleh peran media informasi saat ini. Media informasi yang sangat berorientasi profit juga semaksimalkan upayanya melanggengkan ketidakadilan gender tak menemui rasa empati.

Perempuan menemui tempat dan alat ekspresif melalui sosial media yang mereka gunakan namun pada ketidakmampuannya melawan sistem patriarki, sejak dahulu kemudian perempuan hanya meluapkan dan menggambar sendiri "cermin" dirinya melalui buku kecil Diari (Diary Book) atau mencurahkan perasaan kepada orang-orang tertentu yang dipercayai. Mereka terlampaui tertinggal dan tersesatkan oleh patriarki terlebih oleh mega kapitalisme tak terperi.

Penulis, sebagaimana telah menyinggung di awal, perempuan juga laki-laki dalam sosiologi selain memiliki status juga mereka memiliki peran. Sebagai contoh, seorang dosen perempuan (telah menikah) sebagai status memiliki juga peran sebagai ibu. Seorang dosen perempuan tersebut dalam perannya selain berkewajiban mengajar, merancang penelitian, membimbing para mahasiswa, ia juga di rumah memiliki status sebagai seorang Ibu yang harus menyiapkan dan berkegiatan dapur, sumur, mengajar menasihati, hingga serba harus mengatur segala ekonomi dan proyeksi masa depan keluarga hingga nanti.

Tentu saja, peran dan status yang melekat padanya tak boleh dipindah atau ditukar-tukarkan. Di lain pihak, laki-laki selain sebagai pencari nafkah dan ia juga adalah pemimpin dalam keluarga (belum lagi kegiatan-kegiatan pekerjaan yang menuntut pula peran dan fungsinya di ranah pekerjaan dan lingkungan sosial).

Status dan peran inilah yang saling kait-mengait sebagai tugas dan kedudukan perempuan dan laki-laki. Perempuan dalam perannya saat ini semacam dibentuk sebagai "budaya"nya sendiri. Dalam arti, mereka ditawari dan diberi konsepsi juga praktik gaya hidup yang sebenarnya manipulatif distorsi hingga akhirnya tersubordinasi. Dengan kata lain perempuan (dalam pendakuan analisis Michael Foucault, Sosiolog Perancis) sebagai pusat erotisme sensasi dan kenikmatan dalam kungkungan kekuatan politik yang merebutkan kekuasaan dan profit keuntungan materi.

Perempuan menjadi komoditi yang bukan hanya dilihat sebagai tumpukan daging semata namun digambarkan penuh seksualitas juga penuh erotis tanpa pernah kalah dalam prestis dan daya tariknya sendiri, dengan sebelumnya di setiap produksi oleh kapitalisme; baik itu mengakar sejak masa kapitalisme industrial (klasik atau fordisme) hingga kapitalisme kontemporer (kapitalisme pasca-fordisme) yang di mana kegiatan produksi kapitalistik menyisipkan proses "idealisasi" secara imaterial melalui lambang, model, dan ikon-ikon lainnya bahwa perempuan pada dasarkan dijadikan alat; namun, perempuan kemudian dikonsepsi kepada masyarakat agar semaksimal dan optimal mungkin memilki daya tawar (supply) dan permintaan (demand) besar dalam pusaran era mga narasi kapitalistik dan teknologi informasi sebagai basis kekuasaan.

Penulis pernah mendengar sebuah potensi yang disinyalir sebagai kekuatan dari perempuan (walau juga dimiliki laki-laki) yaitu kelembutan. Seharusnya kelembutan (dalam praktik sosial dan budaya; terlepas dari pelbagai variasi teori gender) perempuan dijadikan alat untuk tampil, dan menghalau bias gender yang memarginalkan peran dan kesempatannya dalam dunia informasi dan teknologi, tentu saja "kelembutan" yang tidak dimaknai lemah dan bersikap diam melihat proses bias gender yang ada.

Penindasan yang diterima oleh perempuan bukan hanya karena laki-laki lebih awal memegang tampuk kedudukan-kedudukan strategis, namun juga disebabkan oleh banyaknya ketidaksadaran yang mereka tunjukkan dengan menelan mentah-mentah dan meniru budaya dan gaya yang telah diidealisasi oleh para elit kapital global melalui cara hidup dan berpakaian mereka. Tabu dan nilai seksualitas perempuan dijual di depan lingkungan sosial hanya demi mendapatkan sekadar pengakuan dari "keindahan" yang mereka tampakkan. Tak ada lagi rahasia bagi organ intimnya. Padahal pada perempuan sebenarnya terdapat privasi yang seharusnya harus tetap sebagai "daerah privat" (tetap dan rahasia baginya dan kalangan tertentu yang dapat melihatnya). Salah satu keberhasilan kapitalisme adalah dengan mengubah cara pandang perempuan terhadap apa yang dipakai kenakan (fashion).

Penulis berpandangan bahwa cara berpakaian perempuan sebenarnya merugikan dirinya secara berlapis-lapis dengan terlebih dahulu diidealkan pemikiran mereka terhadap apa yang mereka butuhkan dan inginkan sebagai pusat kecantikan, kemewahan, kebahagiaan, dan dipercayai sebagai nilai-nilai dan label-label positif (stereotype positives).

Dalam dogma Islam, kerudung atau hijab adalah cara berbusana yang dipandang sebagai idealnya pakaian kehormatan bagi perempuan, saya teringat seorang perempuan muslim berhijab yang berpidato dalam kesempatan di depan majelis umum PBB, setelah ia berpidato kemudian ditanya oleh seorang reporter dengan pertanyaan rasis juga merendahkan, "Menurut kami di Barat pakaian yang menutupi tubuh dan kepala Anda tidak mencerminkan pengetahuan dan kehebatan Anda. Hijab, dalam kesimpulan kami adalah simbol keterbelakangan dan kemunduran".

Sang dokter perempuan kemudian menjawab, "Manusia sejak masa awal hampir telanjang kemudian bersamaaan kemajuan ilmu pengetahuan, manusia baru kemudian mengenakan busana. Apa yang saya kenakan hari ini adalah simbol kemajuan berpikir dan kecanggihan ilmu pengetahuan yang telah dicapai manusia berabad-abad lamanya".

Setidaknya sang dokter perempuan itu memberi pengajaran logika dengan mengatakan, "Saya hanya menutupi kepala dan tubuh saya, tapi tidak dengan otak dan akal saya". Terlepas pakaian sebagai juga proses dan ciptaan budaya oleh manusia, juga memungkinkan perbedaan pandangan dan nilai kesopanan di setiap waktu dan tempat. Setidaknya saya sedang berbicara kepada salah satu dari tiga Agama terbesar di dunia; Islam (walaupun Bunda Teresa atau dikenal Mother Teresa penyebar ajaran cinta kasih umat Kristiani mengenakan pakaian yang juga menutupi tubuhnya, semacam pakaian kudung biarawati) dan dengan kedatangan Islam yang menemukan cara berpakaian yang menyelamatkan para perempuan dan melegitimasi pemakaian kudung sebagai penghargaan Tuhan kepada perempuan, setelah sebelumnya manusia tidak mengenal busana dan pakaian.

Selayaknya perempuan harus meninjau atau memperhitungkan kembali cara hidup dan persepsi kecantikannya di bawah penindasan kultural patriarki dan kekuatan kapitalisme global yang mem"barang"kan atau dengan kata lain mereka selalu dijadikan komoditi paling laku seperti yang telah disebutkan sebelumnya oleh Foucault.

Afirmasi yang sama juga ditunjukkan oleh Fredrickson dan Roberts dalam Objectification Theory "...that women exist in a culture which their bodies are 'looked at, evaluated, and always potentially objectified"

"...adalah perempuan hadir (eksis) dalam suatu budaya yang di mana tubuh-tubuh mereka dipertontonkan, dijadikan komoditi tawar-menawar, dan memiliki potensi untuk terus ter-objek-kan".

***

Kunjungi FB, IG, dan Blog komunitas kami; Salaja Pustaka Indonesia
iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl